Pasar Keputran Surabaya

Pasar Keputran Surabaya, yang Tak Pernah Tidur

Surabaya adalah kota metropolis  yang masih mempertahankan ciri khas dengan kampung-kampungnya. Jika Anda sedang berlibur di Surabaya, dan menginap di hotel area pusat kota Surabaya,  Anda bisa mencoba untuk menikmati wisata kampung. Menyusuri lorong dan gang yang sempit khas kampung.

Bagi traveler yang tengah menikmati pusat kota Surabaya yang dipenuhi gedung menjulang dengan gemerlap lampu, tak akan mengira jika dibalik kemegahan kota Surabaya, ada kampung-kampung yang masih eksis lengkap dengan bangunan asli dan budaya masyarakatnya.

Salah satunya adalah kampung Keputran. Menurut catatan sejarah, dahulu Keputran adalah tempat tinggal khusus para keluaraga Kerajaan Surabaya. Permaisuri, para selir dan putri raja yang masih lajang tinggal di wilayah Kerajaan yang berdiri sejak tahun 31 Mei 1293. Selanjutnya tanggal ini ditetapkan menjadi hari jadi Kota Surabaya.

Kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengintip sebuah pasar tradisional yang ada di Jalan Keputran. Sesuai tempatnya, pasar ini dikenal dengan nama Pasar Keputran. Untuk mencapai pasar ini, Anda bisa menyusuri trotoar dari arah Tunjungan, menuju Jl. Raya Urip Sumoharjo. Di ujung selatan trotoar, tepat di perempatan Jl. Pandegiling, Anda akan menemukan sebuah bangunan dengan arsitektur klasik berbentuk silinder , itulah hotel Olympic. Hotel pertama di Surabaya yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1956 yang ditetapkan menjadi salah satu cagar budaya.

Pasar Keputran Surabaya

Hotel Olympic . Di balik Jl. Urip Sumoharjo inilah Jl. Keputran  daenggassing.com

Pasar ini terletak di sisi timur Jl. Raya Urip Sumoharjo. Memasuki Jl. Keputran dari selatan, mata akan langsung disergap pemandangan bangunan pertokoan peninggalan jaman kolonial dengan dinding-dinding kusam, menyiratkan bahwa deretan bangunan itu sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Di bagian selatan itulah, Pasar Keputran lama. Terlihat lapak-lapak penjual berbagai keputuhan pokok, aneka bunga setaman, janur, dan manggar.

 

Pasar Keputran Surabaya

Dibalik  toko-toko tua ini lah Kampung Keputran

Pasar Keputran Surabaya

Saksi bisu sejarah

Berjalan terus ke utara, anda akan menjumpai keramaian khas pasar tradisional. Inilah Pasar Keputran Utara. Yang merupakan pasar induk terbesar di Surabaya. Pasar yang selalu bergeliat, berdenyut setiap waktunya. Di saat jam-jam pasar-pasar lain tertidur, Pasar Keputran justru di puncak keramaiannya. Tengah malam hingga dini hari adalah puncak kehidupan pasar ini. Para pedagang sayur keliling, pedagang di pasar-pasar kecil tumplek blek kulakan di Pasar Keputran. Sebelum ditertibkan Mei 2010, pedagang di pasar ini meluber hingga ke Jl. Raya Urip Sumoharjo dan jalan-jalan raya di sekitarnya.

Bahkan dulu saya tidak pernah memasuki bangunan pasarnya, karena tinggal parkir di pinggir jalan raya, sudah berderet-deret pedagang disana. Efeknya kemacetan semakin menjadi, terutama di jam-jam sibuk. Syukurlah, kini pedagang sudah tertib, sehingga para  street walker bisa menikmati trotoar yang nyaman dan mulus.

Oh ya, Umumnya pedagang mulai ramai menggelar lapaknya dari jam 15.00 hingga jam 08.00 pagi. Jadi, sebaiknya Anda menikmati blusukan petang hingga malam hari. biar lebih terasa sensasi keriuhannya 🙂

Begitu menjejakkan di pasar ini, para vegetarian dan pecinta raw food pasti akan  sangat girang menyaksikan tumpukan sayur segar berwarna-warni. Gundukan kentang, tumpukan wortel, lombok, paprika ranum warna-warni, aneka umbi-umbian, bongkokan petai yang tergantung, berkarung-karung bawang putih dan bawang merah memanjakan penglihatan.

Pasar Keputran Surabaya

Suasana pasar yang riuh

Pasar Keputran Surabaya

Harga lebih murah, untuk sayuran tertentu harus beli minimal 1 ikat

Suasana meriah semakin ramai saat para kuli angkut wira-wiri memanggul aneka sayuran dalam keranjang besar yang disandang di punggungnya. Saya sempat terkagum-kagum dengan tenaga dan kegesitan mereka.

Pasar Keputran Surabaya

Kuli panggul yang bikin berdecak

Siap-siap membawa sapu tangan atau tissue bagi yang tidak tahan dengan bau tajam, karena penciuman akan disergap dengan bau yang menguar dari sayur-mayur dan rempah-rempah disekeliling Anda.  Bagi saya, menghirup aroma khas pasar tradisonal membuat sensasi tersendiri. Tapi saat melewati lorong yang khusus menjual rempah-rempah dan bawang, saya sempat tersedak dengan baunya.

Pasar Keputran Surabaya

Ibu-ibu ini asik memisah bawang putih dari bonggolnya

Pasar Keputran Surabaya

Penjual sayur dari berbagai kota sekitar Surabaya, semakin sore semakin ramai

Pasar Keputran Surabaya

Sayur mayurnya ijo royo royo

Yang agak menggangu memang sisa-sisa sayuran yang berserakan di lantai sepanjang ruas-ruas lorong pasar. Kalau sudah puas menyusuri lorong pasar, Anda bisa keluar menapaki sepanjang Jalan Keputran.  Lapak-lapak berjajar hingga meluber  kearah jalan Kayoon. Jika Anda berjalan-jalan di malam hari, bisa berhenti sejenak di taman Kalimas yang letaknya berimpitan dengan Jl. Keputran sebelah Utara.  Memandang keelokan Sungai Kalimas  yang termasyhur itu, di bawah kerlip lampu.

Kota yang manusiawi dan berbudaya, bukanlah kota yang menggerus kehidupan masyarakat aslinya. Menggusur dan mengganti dengan  semua yang diangap modern bukanlah kebijakan yang bijaksana. Semoga Surabaya menjadi Kota Megapolitan yang ramah, tetap menyimpan dan memelihara kenangan masa lalu di setiap sudut-sudut kotanya.

Masih ragu, untuk blusukan ke pasar Keputran?

Pasar Keputran Surabaya, yang Tak Pernah Tidur
5 (100%) 1 vote
(Visited 3,646 times, 1 visits today)


About

Mom Blogger. Suka belajar oret-oret bikin cerita bacaan anak. Penikmat makanan pedas, Pengagum Gunung. Demen incip-incip, mlaku-mlaku (apalagi kalo gratis he)


'Pasar Keputran Surabaya, yang Tak Pernah Tidur' have 8 comments

  1. November 6, 2015 @ 11:18 pm Rahmah

    Di Maros, SulSel juga ada pasar yang nggak pernah sepi…

    Reply

    • November 13, 2015 @ 1:08 pm Vanda Nur Arieyani

      Hampir di setiap daerah sepertinya punya pasar induk andalannya ya mbak Rahma 🙂

      Reply

  2. November 7, 2015 @ 12:31 am Niar Ningrum

    Jalan masih jualan warung kulakannya malem ke sini dan harga bisa lebih miring, hadeh maut buat rame ne poll.

    Reply

  3. November 7, 2015 @ 9:51 am Aziz Nur Kartika Hadi

    Bener banget nih, emang pasar Keputran ini salah satu pasar di Surabaya yang tidak pernah tidur, selalu rame. Bagus juga nih buat hunting foto, hehe..

    Reply

    • November 13, 2015 @ 1:11 pm Vanda Nur Arieyani

      Ayo mas Aziz! Pasti hasil jepretan mas Aziz bakalan keren nih hehe, lalu aku daftar minta diajarin :))

      Reply

  4. November 8, 2015 @ 4:26 pm nining

    pernah mau beli kacang panjang disini dan kudu 1kg minimal itupun mbaknya nggrundel hihihi dienkkkk emg mo arisan beli 1kg hehehehe

    Reply

    • November 13, 2015 @ 1:12 pm Vanda Nur Arieyani

      Memang mbak Nining, di Keputran kalau sayuran belinya harus satu gebok hehe kulakan. Aku biasanya barengan sama teman-teman, beli rombongan gitu, jatuhnya jadi lebih murah

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloSurabaya.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool