Pantai Binting Pulau Mengare

Menjelajah Keunikan Pulau Mengare dan Menelusuri Benteng Lodewijk

Hati-hati, artikel kali ini berisi 100% penjelajahan. Yap, penjelajahan di Pulau Mengare lebih tepatnya. Pulau ini terletak di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Berawal dari keingintahuan saya dan teman-teman soal garis pantai di kecamatan ini, jadi kami langsung berangkat dari Surabaya. Letak Kabupaten Gresik sendiri tidak jauh dari Surabaya, tapi untuk menuju Mengare harus mencapai Kecamatan Bungah terlebih dahulu dan masuk jalan kecil sebelum Jembatan Sembayat yang hits karena membelah Bengawan Solo di Gresik. Apakah Pulau Mengare benar-benar sebuah pulau yang terpisah dari daratan Jawa? Jawabannya adalah iya, namun karena sedimentasi yang terjadi selama hampir bertahun-tahun jadinya terlihat hampir menyatu. Dari Portal Sembayat ke Mengare jaraknya sekitar 12 Km dan saat memasukinya akan terlihat sebuah gapura bertuliskan Selamat Datang di Pulau Mengare Desa Watuagung.

Sebelum menjelajah menuju Benteng Lodewijk ada sesuatu yang menarik mengenai Pulau Mengare, yaitu tentang legenda terbentuknya pulau tersebut. Ada banyak versi tapi salah satunya adalah mengenai seorang putri dari Solo yang hendak dijodohkan dengan bangsawan asal Tiongkok. Karena putri tersebut tidak setuju, akhirnya dia melarikan diri dengan menyusuri Bengawan Solo hingga akhirnya terdampar di Bengawan Legowo (kini Telaga Pancar). Sang ayah yang mengetahui putrinya melarikan diri, lantas mengutus parajuritnya yang seekor ular besar untuk mecari putri tersebut. Setelah ular tersebut menemukan sang putri, dia berbohong jika perjodohan di batalkan agar putri mau kembali. Namun Raden Paku (Sunan Giri) yang mengetahui niat buruk ular tersebut mengutus Sunan Karebet (Jaka Tingkir) untuk melawan ular tersebut. Dalam pertarungan, akhirnya ular itu mati dengan posisi meliuk. Dari banyaknya versi legenda, terdapat satu kesamaan, yaitu Desa Kramat adalah bagian kepala ular, Desa Tanjung Widoro adalah bagian perut, dan Desa Watuagung adalah bagian ekor ular. Sampai sekarang legenda tersebut masih dipercaya dan ada hubungan dengan sebab bahasa yang digunakan di sana adalah Bahasa Jawa seperti di Solo bukan Jawa Timur.

Benteng Lodewijk

Menyeberang Lodewijk

Meninggalkan legenda menarik dari Pulau Mengare mari kita lanjutkan pencarian Benteng Lodewijk. Berbekal mbah google dan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar, saya bertanya arah menuju benteng dan mengenali bentuknya dari penelusuran di google. Oleh warga sekitar, termpat yang terdapat benteng disebut Pantai Binting di Desa Tanjung Widoro. Berbekal arahan dari warga juga, saya menelusuri pematang tambak yang sangat kecil. Ada pula yang sudah diberi pavingstone. Sampailah di ujung jalan yang harus menggunakan sampan untuk menyeberang. Waktu itu saya hanya disuruh membayar seribu rupiah untuk menyeberang. Setelah menyeberang, tetap saja kita melewati pematang sampai perjalanan tidak bisa dilanjut lagi dengan motor. Akhirnya saya menitipkan motor di tempat salah satu penjaga tambak dan melanjutkan penjalanan dengan membelah hutan mangrove yang masih asli. Bahkan terdapat banyak kera yang tidak malu-malu bermain di area tepi pantai.

Benteng Lodewijk

Bangunan Benteng dari Pantai

Pulau Mengar

Membelah Hutan Mangrove

Pantainya sendiri dikenal warga sekitar memiliki pasir yang putih, namun yang terlihat oleh mata saya adalah pasir putih yang kasar hasil pecahan kulit kerang. Entah itu terbentuk secara alami atau buatan manusia. Tapi deburan ombaknya lumayan menenangkan dan memecah keheningan karena memang sepi tak ada siapapun kecuali saya dan teman-teman saya juga penjaga tambak tadi. Setelah berjalan sebentar akhirnya terlihat bagian Benteng Lodewijk yang dibangun sekitar tahun 1830an itu. Menurut catatan sejarah, benteng ini dibangun untuk mempertahankan daerah jajahan dari usaha perebutan musuh. Benteng Lodewijk juga dibangun bersamaan dengan Benteng Teluk Meuween Ujung Kulon. Sayang sekali kondisi benteng saat ini tidak terawat bahkan bisa dibilang banyak yang runtuh terkena abrasi air laut. Benteng Lodewijk ini sendiri menghadap Selat Madura.

Saya tidak berani menjelajah lebih jauh lagi karena bagian dalam benteng tertutup tanaman yang sangat lebat. Namun dari yang saya lihat terdapat banyak sumur yang saya sendiri tidak tahu fungsinya. Selain itu yang menarik dari perjalanan saya di sana adalah bisa melihat bunga bangkai secara langsung. Cukup mengejutkan sih untuk saya melihat bunga bangkai di yang ternyata banyak tumbuh di dalam area benteng. Akhir-akhir ini saya baru tahu kalau orang yang menuju benteng bisa dengan mudah melalui jalur laut, tentunya menggunakan perahu sewaan. Tapi saya cukup puas bersusah payah menyusuri jalan darat dan menyeberang menggunakan sampan. Semoga pemerintah Kabupaten Gresik memberi perhatian pada pelestarian reruntuhan bangunan Benteng Lodewijk.

Bunga Bangkai

Bunga Bangkai

Benteng Lodewijk

Menelusuri Pinggiran Benteng

Benteng Lodewijk

Reruntuhan Benteng Lodewijk

Menjelajah Keunikan Pulau Mengare dan Menelusuri Benteng Lodewijk
4.67 (93.33%) 3 votes
(Visited 2,453 times, 3 visits today)


About

A woman from your future, blogger, love wandering, and love you.


'Menjelajah Keunikan Pulau Mengare dan Menelusuri Benteng Lodewijk' have 11 comments

  1. October 12, 2015 @ 12:00 pm Rahmah Usman

    Bunga Bangkai yang cantik… Ungu pulak… Saya sukaaa ^_^

    Reply

  2. October 12, 2015 @ 12:46 pm Dwi Puspita

    ada bunga bangkainya juga ya…keren nih….

    Reply

  3. October 13, 2015 @ 5:05 pm Yuniari Nukti

    Pulau Mengare ini ikut propinsi apa, Ndah? Masih Jawa Timur kah?
    Duh, jadi penasaran ke sini. Baru tau ada pulau bernama Mengare.

    Reply

  4. October 14, 2015 @ 4:59 am Ria Rochma

    Aduh, aku orang Gresik sendiri blm pernah ke sana. Kemarin ada jelajah ke sana naik sampan dari pelabuhan Gresik, jd murni dari laut lewatnya. Tapi karena masih hamil, gagal ikut.
    FYI, Mengare sekarang jadi kecamatan juga melihat dari sisi sejarahnya. Dan terkenal kuliner enaknya dari ikan sembilang 🙂

    Reply

  5. October 15, 2015 @ 10:31 pm Niar Ningrum

    Keren banget smpek ke tmpt yg seperti itu, ada bunga langka ne mbk ndah, mbok diajakin giu niar yaa

    Reply

  6. October 16, 2015 @ 8:29 am Dwi Indah Nurmaturrokhmah

    Aku kalo pergi2 suka dadakan mbak. Perjalanannya selalu tidak terduga. Wkwkw

    Reply

  7. June 20, 2016 @ 8:45 pm putra

    Pulau mengare ad 3 desa. Watu agung, Tj widoro n Keramat. Masuk wilayah kec. Bungah Kab. Gresik. Yang paling unik Desa KERAMAT, Mereka sehari2 pakai Bahasa Madura tp enggan disebut Etnis Madura.
    # Oreng jhebbe tappe bassana medhure

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloSurabaya.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool