Pelabuhan Tradisional Kalimas

Menengok Pintu Gerbang Kejayaan Surabaya Tua di Muara Sungai Kalimas

Menara Syahbandar Tanjung Perak

Menara Syahbandar Tanjung Perak

Pada artikel sebelumnya, saya menuliskan bagaimana geliat perdagangan Pasar Pabean yang telah ada sejak sebelum Negeri ini merdeka dan masih bertahan hingga sekarang. Kali ini saya menengok salah satu pintu gerbang yang mengantarkan Kota Surabaya berjaya di masa Hindia Belanda. Seperti yang tercatat dalam sejarah Surabaya bahwa kota ini sejak dahulu sudah sibuk dengan kegiatan perdagangannya. Sebelum barang dari luar surabaya didistribusikan ke seluruh kota, kapal-kapal pengangkut melewati pelabuhan Kalimas dengan pengawasan melalui Menara Syahbandar. Mari kita tengok masing-masing tempat penting di muara Sungai Kalimas dan keadaannya saat ini.

1.Menara Syahbandar

Menara Syahbandar Tanjung Perak

Narsis di Menara Syahbandar

Bangunan cantik yang berada tepat di ujung muara Sungai Kalimas ini adalah Menara Syahbandar. Saat ini namanya telah menjadi Kantor Syahbandar Kelas Utama Tanjung Perak dan memiliki fungsi pengawasan serta penegakan hukum di bidang keselamatan dan keaman pelayaran, koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan serta pengaturan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan pada pelabuhan yang diusahakan secara komersil. Namun demikian, kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di dalam bangunan tersebut tapi di bangunan yang ada di sampingnya.

Penanda Sejarah Pertahanan Kemerdekaan

Penanda Sejarah Pertahanan Kemerdekaan

Ternyata Menara Syahbandar ini memiliki banyak kisah sejarah dibalik kekokohannya. Pada awalnya juga memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk mengawasi segala kegiatan di pelabuhan. Dan pada tahun 1945 bangunan ini juga memiliki sejarah yang melekat dalam mempertahankan kemerdekaan. Bangunan ini digunakan oleh Serikat Pelayaran Indonesia sebagai markas yang kemudian tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut. Tidak heran jika pada tahun 1966 Menara Syahbandar ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB). Berkunjung ke tempat ini memerlukan izin khusus untuk observasi atau penelitian tapi jika sekadar ingin melihat dari luar bisa langsung minta izin pada penjaga di depannya.

2. Pelabuhan Tradisional Kalimas

Pelabuhan Tradisional Kalimas

Pelabuhan Tradisional Kalimas

Pelabuhan yang terletak di muara Sungai Kalimas ini sudah ada sejak berabad-abad lalu, digunakan sebagai pintu masuk menuju Ibukota Kerajaan Majapahit di Trowulan. Bahkan pertempuran Raden Wijaya dengan pasukan Tartar yang digadang menjadi asal sejarah lambang Kota Surabaya juga terjadi di sekitaran pelabuhan ini. Sejak zaman dahulu juga kapal-kapal pengangkut komoditi bersandar di pelabuhan ini kemudian didistribusikan menuju tengah Kota Surabaya dengan kapal yang lebih kecil. Suasana yang terlihat di pelabuhan ini sekarang juga masih sibuk dengan bersandarnya kapal-kapal dan bongkar muat barang. Hanya saja bedanya sekarang komoditi dari kapal tidak lagi didistribusikan melalui jalur air Sungai Kalimas tapi diangkut oleh truk-truk dan melewati jalan darat. Di sekitar pelabuhan ini berjajar gudang-gudang ekspedisi pengiriman barang. Pelabuhan ini memang bukan diperuntukkan bagi pariwisata, namun bagi para pecinta sejarah sangat berarti untuk menengok kembali muara nadi Surabaya tua.

3. Jembatan Petekan

Jembatan Petekan

Jembatan Petekan

Jika melintasi Jembatan Petekan yang memiliki nama lain Ophaalburg dibangun oleh NV Braat and Co pada tahun 1900an. Jembatan dengan bentuk jembatan gantung ini dahulu bisa dinaikturunkan agar kapal-kapal yang melalui Sungai Kalimas bisa melintas menuju pusat bisnis di Kembang Jepun dan pusat Kota Surabaya. Jembatan petekan ini letaknya sangat dekat dengan Pelabuhan Tradisional Kalimas. Jika ada kapal kecil yang hendak lewat untuk masuk ke kawasan bisnis maka tombol jembatan petekan ini dipencet atau dalam Bahasa Jawa di-petek sehingga bisa terangkat. Oleh karena itu disebut Jembatan Petekan. Lalu lintas sungai dan darat terlihat sangat sibuk dan jembatan ini terlihat canggih dan megah. Namun itu tidak lagi terlihat kecanggihannya. Sisa Jembatan Petekan hanya terlihat sebagai besi tua yang menjulang tinggi di tengah jembatan baru yang sudah dibangun. Padahal jembatan serupa di Belanda hingga kini masih lestari dan berfungsi.

Menyusuri muara Kalimas memang tidak mudah. Ada yang butuh izin khusus seperti saat di Menara Syahbandar, ada yang harus berpanas-panasan melihat kehidupan pelabuhan tradisional di jaman yang semakin modern ini, dan sisa Jembatan Petekan yang masih berdiri di tengah padatnya lalu lintas Surabaya Utara. Keberadaan saksi sejarah tersebut meskipun terabaikan tapi tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan pecintanya. Surabaya pernah berjaya di masa lampau dan akan terus berjaya di masa depan.

Menengok Pintu Gerbang Kejayaan Surabaya Tua di Muara Sungai Kalimas
4.8 (96.67%) 6 votes
(Visited 911 times, 1 visits today)


About

A woman from your future, blogger, love wandering, and love you.


'Menengok Pintu Gerbang Kejayaan Surabaya Tua di Muara Sungai Kalimas' have 5 comments

  1. November 2, 2015 @ 11:37 am Rahmah

    Duh, deretan kapal-kapalnya itu lho bikin aku ingat Bulukumba malahan…
    *homesick*

    Reply

    • November 2, 2015 @ 11:46 am Dwi Indah Nurmaturrokhmah

      Kalau sedang tidak ada aktivitas bongkar muat barang, kapalnya itu eksotis banget berjajarnya.

      Reply

  2. November 2, 2015 @ 8:18 pm Nining

    Smoga makin berjaya ya Surabaya, aamiin
    Ceritanya syahdu sesyahdu hasil jepretanmu ‘Ndah 😉

    Reply

  3. November 4, 2015 @ 1:40 pm Nurul Rahmawati

    Indah memang indaaaah banget menarasikannya 🙂

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloSurabaya.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool