Bukit Pelalangan

Madura Rasa Arizona di Bukit Pelalangan

Dunia per-blogging-an memang selalu membawa para blogger pada pengalaman yang baru atau mengejutkan. Termasuk petualangan tahun ini yang terjadi pada saya bersama teman touring saya yaitu si Suprawati motor kesayangan saya. Ceritanya berawal dari seorang sahabat jauh yang memposting sebuah gambar di facebook hasil dari screen capture  instagram seseorang. Fotonya menarik, menunjukkan seseorang berjalan di antara tebing yang dihiasi tanaman paku. Ya sepertinya itu bukit kapur tapi tidak berwarna putih melainkan coklat. Setelah tahu lokasinya dekat dengan Makam Aer Mata Ibu, yaitu lokasi wisata religi dan sejarah di Arosbaya, Bangkalan saya merencanakan ke sana dengan Nurul travelmate andalan saya. Tapi rencana berpetualang di hari minggu hanya tinggal rencana.

Tapi kehebohan kembali terjadi saat saya iseng mainan instagram di selasa malam nan ceria. Saya melihat Mas Slamet yang seorang blogger kenalan saya memposting foto di tempat tersebut. Tanpa diperintah otomatis jari-jari saya mengetik komentar bernada minta ditemani ke sana. Dan tanpa menunggu lama langsung dibalas.

“Yuk kalau main ke sana. Besok? Soalnya akhir pekan gak bisa.”

Begitulah balasannya hingga akhirnya kami janjian bertemu di Alun-Alun Bangkalan jam 7 pagi waktu Madura, hahaha. Masnya bilang dilanjut lewat BBM aja janjiannya tapi saya lupa. Pagi-pagi ketika para bocah sedang berangkat sekolah, saya menjemput Tika tetangga yang juga teman main saya dari kecil buat jadi teman perjalanan saya kali ini. Karena enggak BBM ke Mas Slamet dan langsung berangkat ke tempat janjian jadi masnya ngontak duluan buat tanya jadi atau enggak. Dan karena sedang mengendarai motor, saya minta Tika buat balesin BBM buat bilang jadi dan udah deket tempat janjian. Ya karena jarak Alun-Alun Bangkalan yang dekat dengan akses Jembatan Suramadu dan Rumah saya dekat dengan Suramadu bagian Surabaya, jadinya tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Bah… Sudah lebih dari 200 kata kapan cerita soal lokasinya? Sabar ya sodara, proses petualangan ini seru soalnya. Ya buat saya sih seru, hahaha.

Bukit Pelalangan

Pemandangan Saat Masuk Lokasi

Setelah masnya sampai di Alun-Alun, saya yang sedang makan jajanan di sana melambaikan tangan dan langsung menyalakan motor. Tanpa mengobrol terlebih dahulu, kami langsung tancap gas. Saya yang menunggangi si Suprawati sempat kewalahan mengejar Mas Slamet dengan tunggangannya yang berkopling dan ber-cc besar. Tapi untungnya terkejar dan sampailah saya melihat pintu masuk tempat Ziarah Aer Mata, ternyata lokasi yang dituju itu belok kanan melalui rumah penduduk. Tadinya tidak tampak akan ada perbukitan atau tebing tapi setelah jalanan berubah turuan dan tanjakan saya yakin lokasi tidak jauh lagi. Lalu sebelum melanjutkan, Mas Slamet menghentikan motor dan menawari untuk tukar posisi. Saya nurut aja karena belum tahu medan di depan. Tika dibonceng temannya Mas Slamet naik Suprawati dan saya bersama Mas Slamet. Pemandangan di depan semakin membuat saya senang sekligus terharu. Tebing-tebing bekas penambangan mulai terlihat, berpola kotak atau garis-garis hasil pahatan manusia. Rasa haru tiba-tiba jadi perasaan tidak enak waktu jalanan menanjak dan licin. Yaaaak, Mas Slamet gagal menguasai tunggangan dan kami mundur teratur ke belakang padahal segala macam rem sudah digunakan, mulai dari rem depan, rem belakang, sampai rem sendal kaki. Waktu mundur ke belakang bukannya takut, tapi malah tertawa dan kami bersiap untuk menjatuhkan diri ke rerumputan di samping sebelum mengenai motor di belakang. Tak ada luka atau baju yang kotor karena jatuh terencana kami sangat mulus, hahaha.

Bukit Pelalangan

Penambang di Bukit Pelalangan

Setelah melanjutkan berkendara, kami berhenti di spot pertama untuk menikmati pemandangan dan berfoto tentunya. Tapi sebelum itu kami berkenalan secara resmi. Ya meskipun sudah pernah bertemu sekali di acara akbar para blogger tapi kami waktu itu belum kenalan langsung, semua keakraban terjalin di media sosial. Benar-benar manusia masa kini ya? Haha. Sampai akhirnya saya tahu kalau nama bukit ini adalah Bukit Pelalangan. Tempat memukau ini seperti di Arizona tapi versi tropis. Tebing-tebing dengan pola garis teratur adalah bekas dari pahatan para penambang. Tidak ada alat berat yang digunakan, terlihat dari mobil pengangkut hasil tambang hanya mobil bak terbuka yang kecil. Sampai sekarang tempat tersebut masih digunakan warga untuk menambang batu. Dan itu juga yang menjadi pemandangan khas di sana. Selain tebing juga ada bekas tambang yang menyerupai goa-goa. Mengelilingi tempat tersebut saya jadi seperti dalam suatu game atau terlibat dalam petualangan Indiana Jones.

Bukit Pelalangan

Lubang di Tebing

Ternyata mengunjungi tempat ini memang paling pas di pagi hari dan tidak di saat musim hujan. Karena bukit ini akan menjadi licin dan bakal terjadi seperti yang saya alami di atas. Tapi drama perjalanan kali ini terbayar dengan puas karena tempatnya memang memukau. Dan akhir-akhir ini berwisata melihat batu kapur menyaingi tren batu akik. Lho apa hubungannya? Haha… Yasudah, semoga petualangan saya kali ini bisa jadi referensi saat mengunjungi Madura yang kebetulan lokasinya tak jauh dari Surabaya. Pssstt di lain kesempatan saya berhasil ke sini lagi bersama travelmate yang lainnya.

Bukit Pelalangan

Difotoin Biar Kekinian Juga

Madura Rasa Arizona di Bukit Pelalangan
5 (100%) 6 votes
(Visited 430 times, 1 visits today)


About

A woman from your future, blogger, love wandering, and love you.


'Madura Rasa Arizona di Bukit Pelalangan' have 13 comments

  1. October 20, 2015 @ 2:00 pm Rahmah

    Nggak perlu ke Arizona nih kalau begini
    Madura aja sudah bagus begini…

    Reply

  2. October 20, 2015 @ 2:22 pm Kur

    Informatif sekali blog nya

    Reply

  3. October 20, 2015 @ 5:05 pm Gaguk

    Liburan sekolah masih 2 blm lagi.. Semoga bisa ke bangkalan

    Reply

  4. October 20, 2015 @ 9:23 pm nining

    hahahaha Suprawati, trus ngerem pake kaki….wkwkwk ngakak aku sumpah Ndah. Mungkin karena tipikal kapur tadi ya, yang kalau terkena air sedikit bakalan licin.
    Btw itu trus hasil penambangannya dikemanakan ya?

    Reply

    • October 21, 2015 @ 4:14 am Dwi Indah Nurmaturrokhmah

      Wkwkwk Suprawati itu motor kesayanganku mbak. Iya bener banget karena tipikalnya. Itu hasil penambangan dijual dipake bangun rumah. Mereka menyebutnya batu bata.

      Reply

  5. October 21, 2015 @ 7:07 am Dwi Puspita

    kerennn..aku belum pernah kesini ndah…

    Reply

  6. October 21, 2015 @ 11:51 am Miftahul Faza

    wih… ini mantab! perlu dikunjungi kayaknya..

    Reply

  7. October 23, 2015 @ 12:51 pm Niar Ningrum

    Aaahh keren binggit mbk indah, kudu ajakin ke sini yaa, narsisable ulalala

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloSurabaya.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool